Sebelum kutuliskan puisi ini, kau pastinya tahu kekasihku, bagaimana aku tak memiliki keberanian sedikit pun untuk menuliskan kebaikanmu dalam sajak-sajakku. Bahkan, kata-kata terbaik yang berkeliaran dalam kepalaku, tak berdaya setiap kali kulafalkan namamu dalam puisi-puisiku. Tak apa-apa, bagi hidupku; engkau adalah puisi yang tak pernah dapat kutuliskan dalam kata-kata, puisi yang hanya mampu kupahami dengan cinta dan doa.Masih kuingat, setiap kali aku mulai menyusun kata-kata, aku pasti tersenyum sendiri, karena aku selalu gagal menuliskan kata-kata untuk menggambarkan keindahanmu, segala keindahan dan kebaikanmu, tak cukup bila hanya dituliskan kata-kata. Mungkin engkau akan bertanya-tanya, alasan macam apa hingga akhirnya aku memberanikan diri menuliskan puisi ini untukmu. Seperti halnya aku yang selalu bertanya-tanya, kesetiaan macam apa yang Tuhan berikan kepadamu, hingga mau merawat kepedihan-kesedihanku, dan bisa mengubahnya menjadi kebahagiaan.Sederhana saja alasanku, kekasihku, aku menuliskanmu sebuah puisi, agar sebuah puisi ini bisa setiap kali kau baca. Sesederhana itulah alasanku membuat puisi ini untukmu, sesederhana kita yang saling jatuh cinta, sesederhana kita yang saling menjaga setia, sampai sejauh ini. Aku sengaja menulis puisi ini saat kau berulang tahun, saat sepasang lenganku bermunajat kepada Sang Pencipta, meminta segala doa-doa keselamatan dan kebahagiaan tercurahkan; untuk hidupmu, untuk kebahagiaanmu.Mungkin puisi ini tak berarti apa-apa bagimu. Tapi bagiku, ini adalah kado terbesar yang mampu kuberikan dalam hidupku; selain perasaan-perasaanku yang selalu mencintaimu, sepanjang waktu. Kekasihku, kau ingat tulisan ini?“Kamu tau apa yang aku minta pada Tuhan? Sederhana, aku hanya menginginkan kita bahagia hingga mata kita tak mampu terbuka untuk selamanya”. Bacalah berulang-ulang sayangku, dan kau akan tahu; betapa bersyukurnya hidupku memiliki cintamu, sampai-sampai aku menaruh harapan begitu besar untuk kita bisa bahagia hingga kita tak mampu melanjutkan usia. Sajak itu adalah rangkuman dari ribuan sajak dalam hidupku; tersirat kesetiaan, kepasrahan, dan kebahagiaan yang tak pernah mau (dan mampu) tergantikan.Kau pasti mulai bosan membaca pengantar ini, dan aku belum juga menuliskanmu sebuah puisi. Aku tak percaya diri menuliskanmu dalam sajak-sajakku, dan aku harus hati-hati sekali, agar kata-kata yang kutuliskan nanti; tak melukai dan menyakiti kebahagiaanmu hari ini. Tapi, baiklah, akan kutuliskan puisi ini di hari ulang tahunmu, hari kebahagiaanmu, bacalah dengan sepenuh cintamu, bacalah dengan segenap doa-doamu:Sayang..Semoga hari ini mengingatkan kamuTentang semua hal yang telah kau jalaniMembuat kamu semakin mengertiTentang apa yang selama ini kamu cari dalam kehidupanmuDan juga membuatmu yakin tentang semua hal di masa depanmuSemoga kebahagiaan akan selalu menyertaimuSemoga Tuhan senantiasa melindungimuSelamat ulang tahun kekasihku..Tetaplah tersenyum dengan ceriaTak ada yang bisa aku persembahkan untukmuKecuali ketulusan hati ini untuk tetap setia menjaga rasaku pada dirimuKamu adalah nadi di hidupku..kan kujaga arti hadirmu di hidupku“Selamat Ulang Tahun, Kekasihku, panjang umur bahagiamu; aku mencintaimu…”*puisi ini aku tuliskan satu jam menjelang ulang tahun kekasihku; seseorang yang sangat mencintai hidupku.
Reny mutia 16-okt-15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar